Selasa, 07 Oktober 2014

KESETARAAN GENDER





KESETARAAN GENDER

Apaan nih kesetaraan gender?
Kesetaraan Gender adalah  persamaan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam berbagai hal. Kesetaraan gender bukanlah hal yang asing ditelinga kita , bahkan saat ini pun telah diajukan draf mengenai RUU KKG (Rancangan Undang-Undang Kesetaraan dan Keadilan Gender). Secara sekilas mungkin dengan adanya kesetaraan gender dapat memperbaiki martabat wanita dan agar wanita tidak diremehkan dalam berbagai hal. Namun sebenarnya adanya kesetaraan gender disini adalah membuat bagaimana caranya agar semua perempuan dapat masuk ke sektor public,politik, dan lainnya. Serta membuat kedudukan perempuan dan laki-laki di dalam berbagai sector tersebut menjadi imbang (50%-50%).
Lantas apa masalahnya jika kedudukan laki-laki dan perempuan setara?
Coba kita lihat, menurut laporan dari DEPAG laju perceraian saat ini 60% adalah inisiatif dari perempuan. Padahal dampak perceraian sangat tidak baik terhadap pertumbuhan anak. Banyak remaja saat ini sering berkelahi, melakukan pergaulan bebas, dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang rata-rata dari keluarga yang broken home dan mereka merasakan kurangnya kasih sayang di dalam keluargannya terutama ibu. Sebagai seorang perempuan ( ibu) memiliki hak serta tanggung jawab untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang sehingga kelak anaknya dapat menjadi penerus bangsa yang berkualitas. Hal itu lah yang menjadi kewajiban utama seorang perempuan bukan  malah berambisi untuk menyetarakan diri dan mengisi semua posisi yang ada di seluruh aspek kehidupan. RUU KKG tersebut secara tidak langsung telah mengajak perempuan untuk keluar rumah dan bekerja sampai lupa akan kewajibanya terhadap keluarga, bahkan menduduki posisi-posisi sebagai pemimpin kaum lelaki dan perempuan agar terlihat mulia, dibandingkan dengan mengurus keluarga dan mendidik anaknya.
Lantas , masihkan inginkah peremuan menyetarakan diri ? ayo baca ini:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa`: 34)

Penjelasan Ayat
Al-Allamah As-Sa’di t berkata:
“(Allah) Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa kaum lelaki itu pemimpin atas kaum wanita, yaitu menjadi penegak atas mereka dalam memerintahkan mereka untuk melaksanakan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar memelihara kewajiban-kewajiban dan mencegah mereka dari berbagai kerusakan. Maka kaum lelaki wajib memerintahkan hal tersebut kepada kaum wanita dan menjadi penegak atas mereka. Juga dalam hal memberi nafkah, pakaian, dan tempat tinggal kepada mereka.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sebab yang mengharuskan kaum lelaki mengurusi para wanita. Dia berfirman “dengan apa yang telah Allah utamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan dengan apa yang mereka beri nafkah dari harta-harta mereka”, yaitu dengan sebab keutamaan kaum lelaki atas kaum wanita serta diberikannya kelebihan atas mereka.
Diutamakannya kaum lelaki di atas kaum wanita dari berbagai sisi: dari sisi memegang kepemimpinan dalam negara hanya dikhususkan bagi kaum lelaki; kenabian, kerasulan; dikhususkannya mereka dalam sekian banyak dari perkara ibadah seperti berjihad, melaksanakan (shalat) hari raya, dan Jum’at. Juga dari sisi yang Allah Subhanahu wa Ta’ala khususkan kepada mereka berupa akal, ketenangan, kesabaran, kekuatan yang mana para wanita tidak memiliki yang semisal itu. Demikian pula mereka dikhususkan dalam memberi nafkah kepada istri-istri mereka. Bahkan kebanyakan pemberian nafkah tersebut khusus menjadi tanggung jawab kaum laki-laki. Inilah yang membedakan mereka dari kaum wanita. Dan mungkin ini rahasia dari firman-Nya “dengan apa yang mereka memberi nafkah …” dan obyeknya tidak disebutkan, untuk menunjukkan keumuman nafkah.
Dari semua ini, diketahuilah bahwa seorang laki-laki berkedudukan seperti pemimpin, tuan di hadapan istrinya. Dan istri di hadapan suami bagaikan tawanan dan pelayannya. Maka tugas seorang lelaki adalah menegakkan tanggung jawab pemeliharaan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya. Sedangkan tugas wanita adalah taat kepada Rabb-nya kemudian taat kepada suaminya.
Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wanita-wanita yang shalihah dan yang tunduk”, yaitu taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, “memelihara diri di saat suaminya tidak ada”, yaitu senantiasa taat kepada suaminya walaupun suami tidak ada di sisinya, memelihara suaminya dengan menjaga diri dan hartanya. Hal itu merupakan bentuk pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap mereka. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang memberi taufiq kepada mereka (untuk melakukannya), bukan dari jiwa mereka sendiri. Sebab jiwa tersebut selalu memerintahkan kepada keburukan. Namun siapa yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kecukupan padanya dengan apa yang dia butuhkan dari perkara agama dan dunianya.” (Tafsir Taisir Al-Karim Ar-Rahman).
Jadi, kewajiban perempuan adalah taat kepada suaminya dengan menjaga diri dan hartanya bukannya malah berambisi untuk menyetarakan diri dengan kaum laki-laki di seluruh aspek kehidupan dan bahkan menjadi pemimpin kaum laki-laki, kan sudah jelas bahwa laki-laki lah yang menjadi pemimpin perempuan. Jadi, jangan di bolak-balik. Dan satu lagi untuk kita-kita kaum perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi. Untuk apa Perempuan sekolah tinggi-tinggi kalau lebih mementingkan pekerjaaan dan anak kita kelak diasuh oleh pengasuh yang pendidikannya di bawah kita. Tidak rela kan…? Harusnya dengan pendidikan kita yang lebih  tinggi, ilmu yang telah  kita didapatkan itu dapat ditransfer langsung ke anak kita kelak.


By: ika A. Rahma F.

Jumat, 22 November 2013

NAMAKU DI FUJIYAMA


Hari ini adalah hari libur, kugunakan kesempatan untuk membuka jejaring social media agar bisa berkomunikasi dengan teman-teman lamaku. Maklum kuliah dibidang kesehatan dan diharuskan untuk tinggal di asrama. Sementara di asrama memiiki peraturan tidak boleh membawa handphone jadi jika aku ingin menghubungi keluargaku maka aku harus menggunakan telfon umum yang ada di asrama. Sedangkan untuk berkomunikasi dengan teman-teman lama atau teman jauh aku lebih banyak menghubungi lewat media social.
“ey dinda, OL terus “ tegur fara teman sekamarku.
“hehehe, liburan enggak ada kegiatan lebih baik chatingan” jawabku sambil tersenyum  dan mataku yang tetap menatap layar laptopku.
“waa, keren banget din. Itu temanmu foto dimana?” Tanya fara yang melihat layar laptopku dan disana terpampang foto temanku.
“di jepang far”  jawabku.
“jepang din? Dia liburan disana?” Tanya fara yang tiba-tiba menjadi KEPO.
“enggak, dia pelatihan sekaligus pemagangan di sana selama 3 tahun” jawabku.
“what? 3 tahun din . Enak juga bisa tinggal di jepang ya, wah din kamu bisa minta oleh-oleh bunga sakura” ucap fara panjang lebar.
“pastinya far” jawabku.
Aku melanjutkan chatingku bersama boby teman SMPku dulu. Dia adalah teman yang cukup dekat denganku sejak kelas 2 SMP. Bahkan selama 2 tahun berturut-turut kami 1 kelas. Namun ketika lulus kami harus berpisah karena aku melankutkan studyku ke MAN di kota yang tidak jauh dari tempat tinggalku sementara boby sekolah di SMAN di kota kami yang notabene menjadi SMA terfavorit di kota kami. Meski kami sudah tidak satu sekolah namun aku masih sering berkomunikasi dengannya setidaknya 2 minggu sekali untuk menanyakan kabar. Aku kembali chating dengannya.
Boby: din aku sudah di Osaka dan aku tadi melewati Fujiyama.
Aku: wah, jadi iri bob.
Boby: kesini din, hehehe. Fujiyama sangat indah din.
Aku : tuh bikin iri lagi, bunga sakuranya bob?
Boby: bunga sakurannya semi din, kan ini masih musim semi.
Setelah asyik berchating aku merebahkan badanku di atas kasur hingga ketiduran dan tidak terasa adzan dzuhur sudah berkumandang, aku bangun dan bergegas  pergi ke masjid di dekat asarama untuk menunaikan sholat dzuhur berjamaah. Tenang sekali rasanya jika sudah terbasuh dengan air wudhu dan menyembah sang pencipta. Dan tidak lupa kuselipkan doa untuk keluargaku dan untuk dia sang calon imamku meskipun itu masih jadi rahasianya sang ilahi. Tapi bagiku rahasiaNYA begitu indah, andai jodoh itu bukan rahasia dan kita sudah mengetahuinya sejak kecil maka kita tidak akan tertantang dalam menjalani hidup dan proses mencari siapa pendamping kita pasti hidup kita akan datar datar saja.
1 minggu kemudian, boby menchatku di media social.
Boby: bagaimana kabarmu din?
Aku:alhamdulilah sehat bob, kamu ?
Boby: ya alhamdulilah, maski belum terbiasa dengan cuaca di sini din.
Aku: lama-lama juga terbiasa bob. Aku melihat status di social mediamu kau ingin menulis nama seseorang di Fujiyama?
Boby : iya din, someone special
Aku: kalau boleh tahu siapa bob?
Boby : seseorang lah din, aku sudah menyukainya sejak lama.
Aku : Martha ya?
Boby : bukan lah, aku kan sudah lama putus dengannya.
Aku: lalu?
Boby: kalau saatnya sudah tepat aku beritahu deh din J . kau tau tidak kalau Fujiyama itu kata orang jepang bermakna keabadian. Jadi jika aku menulis nama seseorang di Fujiyama berarti aku berharap dia menjadi seseorang yang abadi di hatiku.
Aku : uhuk,uhuk. Wah special sekali pasti orangnya. Ternyata Fujiyama bukan hanya sekedar gunung yang memiliki pemandangan yang indah tapi juga memiliki makna di dalamnya.
Ya aku memang berteman dengannya tapi dihatiku ada rasa-rasa yang tidak semestinya. Ya Allah, ada apa ini? Kau kenapa dinda?

Karya





AKULAH BIDADARINYA

Direlung hati yang dalam tersimpan secercah harapan.
Harapan untuk dapat menjalankan Ibadah bersamanya.
Ibadah yang dilandasi dengan rasa saling mengasihi, saling mengingatkan kepada sang pencipta, dan saling menegur ketika ada salah.
Mungkin kini belum saatnya untuk bersama,
Alangkah baiknya saat ini ku berusaha untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta.
Karena aku ingin mempersembahkan kesejatian cintaku untuk sang calon imamku.
Hingga tiba saatnya kelak ketika Allah sudah menakdirkanku untuk dapat bersamanya.
Serta ijab qobul terucap dari mulutnya yang dilandasi oleh keyakinan hati bahwa aku ini lah bidadarinya yang akan menemani di kehidupannya.
Akulah bidadarinya yang akan selalu dicintainya.
Akulah bidadarinya yang akan menjadi makmum dalam sholatnya dan mengamini doa yang dipanjatkan kepada sang pencipta.
Akulah bidadarinya yang senantiasa mendengarkan Lantunan ayat-ayat suci yang dibacakanya dengan tartil dan nyaring.
Akulah bidadarinya yang akan menemaninya bersama untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta di penghujung sepertiga malam dan tak lupa didalam sujudku kuselipkan doa agar dan aku dan dirinya selalu dirahmati oleh Allah.
Akulah bidadarinya yang akan ditegur secara halus ketika aku salah dan senantiasa menasehatiku dengan suara yang terdengar bijaksana dan dengan bibir tersenyum.
Akulah bidadarinya yang akan menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk berjihad mencari nafkah.
 Akulah bidadarinya yang akan belajar memasak makanan kesukaanya setiap hari.
Akulah bidadarinya yang akan mencium punggung tangannya dan tersenyum untuk menyambutnya setiap hari selepas dia pulang dari berjihad mencari nafkah untuk keluarga kami.
Akulah bidadarinya yang akan menjadi penawar hatinya dan menghiburnya ketika ia sedang bersedih.
Akulah bidadarinya yang akan melahirkan mujahid-mujahidah yang takwa dan takut dengan Robbnya,yang akan mencintai rasullnya, yang bangga dan mau berjuang untuk agamanya, serta patuh kepada kedua orangtuannya.
Akulah bidadarinya yang akan menjadi madrasah pertama untuk anak-anak kami kelak.
Akulah bidadarinya yang akan senantiasa menemani hari-harinya hingga kelak salah satu diantara kami kembali untuk memenuhi panggilan sang pencipta.
Dan aku berharap aku juga yang akan menjadi bidadari syurganya kelak.
Kini dalam sujud diamku di sepertiga penghujung malam, tak lupa untuk kuselipkan doa untuknya.
Doa untuk calon imamku .
Semoga Allah selalu mengasihi dan menjaganya.
serta memantapkan hatinya untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada sang ilahi, hingga kelak dia menemukan bidadarinya. Dan menuntun bidadarinya untuk mendekatkan diri kepada sang ilahi untuk bersama-sama menggapai syurgaNYA.
Namun siapakah dia hanya ALLAH yang mengetahuinya.
I.A.Rahma